Jumat, 01 Januari 2016

ASSALAMUALAYKUM 2016, TERIMAKASIH 2015


Kata assalamualaykum adalah pembuka, doa dan harapan. Semoga hari pertama di tahun 2016 ini menjadi pembuka yang baik, membuka mata,hati, dan pikiran kita. Semoga awal 2016 ini menjadi awal dari bait-bait doa baik yang tak pernah luput dari hati dan lisan kita. Ya, semoga tahun 2016 tetap menjadi tahun yang penuh harapan, karena harapan akan semakin membuat seseorang merasa lebih hidup. Itulah sebait sapaan awal bagi tahun yang baru.
Berbicara tentang tahun baru, mungkin sangatlah wajar jika kita berbicara tentang sesuatu yang baru dan perubahan, seperti semangat baru, resolusi baru dan hal-hal lainnya. Meskipun pada hakikatnya, perubahan tersebut bukanlah menunggu perguliran tahun baru, tapi setiap saat. Karena tahun baru hanya sebuah moment saja. Berbicara tentang resolusi, pernahkah kamu mendengar sebuah pelesetan bahwa resolusi tahun baru ini adalah resolusi tahun baru ini ditambah resolusi tahun lalu yang belum terealisasi (hehe tapi betul juga kan?) Mari kita review kembali. Tak jadi masalah jika hal ini terjadi, artinya kita harus berjuang lebih saja untuk memperjuangkan yang harus kita perjuangkan. So, jangan ragu untuk melanjutkan, menjaga dan mengukir kembali resolusi hebatmu ya!
Berbicara tentang tahun baru juga, pasti tak lepas dari yang mengiringinya, yaitu tahun lalu. Ya, 2015. 2015  mengajarkan kita banyak hal, mungkin ada hal yang menyenangkan dan tidak menyenangkan. Mungkin ada yang membuat kita tersenyum dan juga menangis. Tapi yang jelas kita bisa sampai di awal tahun 2016, artinya kita bisa melewati tahun 2015 kemarin. Tanpa segala kisah yang menyapa di tahun 2015, mungkin kita tak akan setegar ini, mungkin kita tak akan sebijak ini, mungkin kita tak akan sebersyukur ini.  So, apapun yang  terjadi pada tahun itu, kita harus tetap mengucapkan terimakasih, karenanya atas segala cerita.

Ya Allah. Terimakasih sudah membiarkan aku mampu melalui 2015 dariMu, dan mengizinkanku memasuki  2016Mu.
Hanya atas izin Allah..

Kamis, 30 Juli 2015

“MENGENALI STRESS SECARA UTUH”



Apakah kamu pernah mendengar kata stress? Atau pernah merasa berada dalam situasi stress? Jadi, apa makna dari stress itu sendiri?  Bagaimana Dampak dan Mengatasinya?
Stress adalah pengaruh yang dirasakan dalam diri individu, dimana individu dihadapkan pada kondisi yang menuntut penyesuaian diri dan individu merasa tidak bisa menghadapi tuntutan itu. Stress berkaitan dengan penghayatan individu, penghayatan ada kondisi atau yang diprediksi mengancam yang melebihi kemampuan copingnya. Coping sendiri adalah strategi untuk menyelesaikan masalah atau ancaman pada individu tersebut.
Individu memiliki persepsi yang berbeda-beda, karena manusia itu unik. Dan persepsi manusia yang berbeda terhadap stimulus inilah yang akan membedakan makna stress satu dengan yang lainnya. Bisa jadi stimulusnya sama, namun ketika individu yang berbeda menerima stimulus yang sama ini, maka belum pasti stimulus ini menjadi kondisi stress bagi individu yang berbeda itu.
Biasanya stress ini berkaitan dengan tekanan batin yang juga akan disertai dengan reaksi fisik. Secara biologis, ketika stress badan kita akan memproduksihormon-hormonrangsangan termasuk hormon Adrenaline kedalam saluran darah, dan akan mengintensifkan fungsi jantung, paru-paru dan organ-organ tubuh lainnya. Jika tekanan mental tersebut berlarut-larut, maka hormon-hormon itu akan bertambah banyak dan merangsang tubuh kita. Kondisi itu akan menyebabkan ''terkikisnya'' ruh dan fisik manusia. Tekanan batin dalam jangka panjang akan mengganggu kemampuan kita untuk menikmati kehidupan dan bahkan akan memunculkan berbagai penyakit fisik atau emosional. Penyakit fisik seperti radang perut, maag, gangguan usus, tekanan darah tinggi, sakit kepala (migrain), sakit punggung dan leher. Sedangkan penyakit emosional maksudnya stress juga mempengaruhi perasaan, pikiran dan perilaku manusia. Salah seorang teman yang mengalami stress pernah mengatakan bahwa ia akan mudah merasa cemas, frustasi, jengkel atau cepat marah terhadap lingkungan sekitarnya. Ia mengatakan bahwa ia lebih mudah sensitif dan marah tidak pada tempatnya, saat ia kesal pada situasi kantor , tak jarang ia justru melampiaskannya pada orang-orang yang ada dirumah.
Apakah anda sepakat, bahwa orang sehat adalah orang yang memiliki jiwa yang sehat? Seseorang yang dari sisi mentalnya disebut sehat ketika ia memiliki kemampuan dan ketrampilan yang tepat dan menggunakannya untuk mengatasi segala permasalahan, inilah maksud dari jiwa yang sehat yang bukan sekedar sehat secara fisik. Maksud dari kemampuan dan ketrampilan tepat di sini adalah metode-metode yang digunakan seseorang untuk menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapinya. Ketrampilan tersebut khusus dan tergantung pada karakter pribadi seseorang. Sehingga kita perlu mengetahui bagaimana karakter serta kepribadian diri kita sendiri.
Menurut Lazarus penanganan stres atau coping terdiri dari dua bentuk, yaitu :
a)      Coping yang berfokus pada masalah (problem-focused coping) adalah istilah Lazarus untuk strategi kognitif untuk penanganan stres atau coping yang digunakan oleh individu yang menghadapi masalahnya dan berusaha menyelesaikannya.
b)       Coping yang berfokus pada emosi (problem-focused coping)adalah istilah Lazarus untuk strategi penanganan stres dimana individu memberikan respon terhadap situasi stres dengan cara emosional, terutama dengan menggunakan penilaian defensive.
Sebenarnya tidak semua stress itu negatif, ada stress yang bersifat positif (eustress) seperti stress saat menghadapi pernikahan. Dan yang harus dilihat selanjutnya bukan sekedar stressnya, tapi bagaimana individu tersebut menghadapi stress dengan cara yang berorientasi pada pemecahan masalahnya atau pada emosi semata.
            Salah satu upaya yang bisa dilakukan secara kontinyu dalam menghadapi stress ini adalah kita harus siap untuk berada dalam situasi stress. Kita bisa menggunakan metode “self talking”, yaitu memasukkan sugesti-sugesti positif terhadap diri kita yang akan membuat kita semakin tenang, bahkan merasa mampu menyelesaikan masalah yang ada. Contoh kalimatnya seperti ini “ saya (sebut nama anda) saya bisa menyelesaikan masalah ini, saya tenang menghadapi ini, dan lain-lain”.
            Berdasarkan informasi dan fakta yang digambarkan diatas, maka kita dapat melihat bahwa setiap orang memiliki derajat stress yang berbeda-beda, bisa tergantung pada masalahnya, kemampuan dalam diri untuk menyelesaikan masalahnya juga kepribadian serta karakternya sendiri. Stress juga dapat berdampak pada kondisi fisik dan psikis seeseorang. Jadi, ketika kita sudah tahu ilmunya, maka sebenarnya kita memiliki pilihan untuk belajar menghadapi situasi stress dengan lebih baik lagi, terlebih semuanya tergantung pada diri kita sendiri. Maka tentukanlah apakah kita siap hidup apa adanya tanpa bersikap tegas pada diri kita  atau membuat adanya menjadi baik dan siap menempa diri kita untuk berubah sedikit demi sedikit.


(diajukan dalam memenuhi tugas essay, mata kuliah kesehatan mental ) :) 


Rabu, 29 Juli 2015

#SurgaYangTakDirindukan

Aku ingin menulis sesuatu, setelah aku berhasil menonton film #SurgaYangTakDirindukan.
chekidot!!
---------
Bapak : kamu yakin, dia bisa jadi imam yg baik buatmu.<br>
Anak : kalau bukan kita yang mempercayainya. Maka siapa yg akan percaya pa..<br>
Bapak : lalu, kamu percaya?
Anak : atas restu bapak...
(Lalu 2 anak manusia itupun menikah) 
----------

sebuah awal yg indah, sebelum pada akhirnya ujian tentang keikhlasan dan pengorbanan itu datang.


Aku tak habis pikir, bunda @Asma nadia bisa sebegitu brilian ide ceritanya. Aku sempat bertanya " apakah betul ada dikehidupan nyata ini,seseorang suami menikahi orang lain yg bahkan baru ia kenal tanpa izin istrinya,demi menolong dan memberi kehidupan padacalon istri k&apos;2nya tersebut? Demi memberi kehidupan pada bayi yg ada di perut calon istri k'2nya itu.

Sungguh... rasanya, masih ada cara lain. Masih ada hal yg lebih baik dilakukan selain itu. Bukankah setelah selamat, ia bisa membatalkan janjinya dgn alasan ia sudah memiliki istri? Lalu mnjelaskan dgn santun, dan memberikan pemahaman dan kehidupan dgn cara yg lain? &apos;Bukan dgn menikahinya&apos;. Atau barangkali ia bisa segera menghubungi istrinya untuk memberitahu apa yg saat ini sedang terjadi, sebelum betul menikahinya?

Kenapa harus menghancurkan rumah tangganya yg begitu damai? Kenapa harus membuat kehidupan baru didalam kehidupan yang sudah ada??<br>

(Arghhhhh... beginilah alur film. Mba Asma berhasil membuat aku gregetan. Great!!) <br>

----------
Istri : Surga yang mas.... tawarkan begitu indah, tapi maaf. Bukan surga itu yang aku rindukan. 
--------

Pada dasarnya, wanita mana yang begitu ikhlas untuk kali pertamanya untuk membagi suaminya dgn wanita lain. Apapun motif dan niat suaminya. Terlebih begitu mendadak, terkesan diam-diam , dan moment puzzle kehidupannya sedang dirundung pilu karena kepergian bapaknya yg juga ternyata menikahi wanita lain dgn niat membantu juga (dan ia baru mengetahuinya di hari wafat baoaknya). Perlu proses untuk memahaminya... proses untuk ikhlas.. meski itu berbalas surga. Tapi jika boleh memilih, bukan surga itu yang diinginkan.

Meski akhirnya... dengan ilmu n pemahaman agama yg ia punya, sang istri bisa bersikap lebih bijak.. ada moment dimana ia berusaha untuk ikhlas dan merasa *harus siap*. Meski ending film ini begitu membuatku haru lagi, bahwa istri ke&apos;2nyapun sadar bahwa ia seharusnya tak ada di sela sela cerita indah keluarga tersebut. Lalu istri k&apos;2 itupun mundur... (karena pada dasarnya, istri k&apos;2 inipun tak berambisi untyk menguasi suaminya saat itu. Ia cukup tau diri siapa ia, seorang wanita lemah yang belum mengenal Tuhannya, dan ditolong dgn cara dinikahi. Ya , itu membuatnya aman untuk yakin bisa melahirkan anak tanpa ayah itu ke bumi). 



**********************
Tapi, tiba-tiba sisi lain dari kegregetan diriku dalam mengomentari alur film itu muncul. Sebagai orang yg belajar ilmu psikologi, aku diajarkan untuk tak menilai seaeorang begitu saja, tapi harus mencari tahu kenapa akhirnya ia bisa berperilaki seperti itu. 

Aku yg ilmunya masih terbatas, mencoba berbaiksangka dgn ilmu psikologi yg aku sedang pelajari. 

Bahwa....

Terlepas dari begitu banyaknya komentar tentang *kenapa dia harus menikahi wanita itu.. kenapa gak gini aja.. kenapa ga gitu aja..* aku faham, keputusan suaminya saat itu bukanlah keputusan yang mudah. Ia punya pengalaman masa lalu yg sama, yg membuat ia terjebak dalam keputusannya untuk menikahi wanita itu. Ia trauma, ia tak siap harus melihat orang lain setelah ibunya, mati tepat didepan matanya sendiri. Ia tak siap harus membiarkan bayi yg ada didalam perut wanita itu, mati begitu saja. Ia tahu bagaimana rasanya tak hidup dengan orangtua. Ia tahu bagaimana rasanya kesepian. Aku mengerti ia terjebak dalam kisah masa lalunya. 
(Ya... ini hanya analisa sederhanaku, yg blm tentu benar. Lha wong film. Hehe. Yang jelas analisaku ini berlaku. Karena dari alur ceritanya aku sedikitpun tak menemukan motif negatif, bahkan sekedar hasrat awal pada calon istri k'2nya ini). 
<br>
Ambil hkmhnya, jgn modus lo.. para suami. Hehe 
Sekali lagi terimakasih, sudah memberi  ending film yang membuatku haru bahagia bunda...<

Selasa, 31 Maret 2015

Mengkondisikan Diri, Zero



Pernahkah kamu berada pada sebuah kondisi , dimana kamu merasa sangat ceroboh, menyesa,resah  dan takut, karena ulah keteledoran dirimu sendiri?

Ya, saya pernah…

Saat seperti itu, kita akan reflex untuk segera beruraikan air mata, tak peduli berapa banyak bulir air yang jatuh dan membengkakkan mata kita. Pada saat itu kita hanya bisa berteriak mengatakan “ Ya Allah…..”. Ya, disaat pertama kali kita tak mampu bersegera berpikir dan berserah, kita hanya bisa “”menangis”.

Aku hanya ingin bilang, bersegeralah sadar untuk lekas beristigfar,bertasbih. Jangan marah pada dirimu 
sendiri, lekaslah untuk menyadarkan dirimu sendiri bahwa “Taka da salah yang tak bisa diperbaiki, jika itu hak untukmu, pasti untukmu. Berjuanglah semampunya. Dan jika hal itu lepas, berarti bukan untukmu. Terimalah seikhlas mungkin”. Berserahlah segera, menyerahlah hanya pada Allah saja. Saat ikhtiarmu sudah sampai ujung, dan sulit, maka menyerahlah saja.. hanya pada Allah.

Dan mungkin, saat sulit itu kita mengingat kekeliruan, kesalahan dan dosa kita, sembari berucap “ Ya Allah… ini tak sebanding dengan dosa hamba. Bantu hamba.. hamba berjanji memperbaikinya jika hamba berkesempatan lagi”. 
Ya, sadar atau tak sadar kita seperti menukar harapan kita dengan janji yang sungguh manis…. Jangan lupakan janji itu… jika kau berkesempatan yang sama…
Dan aku hanya ingin bilang, bahwa banyak cara Allah untuk mengingatkan hambanya, baik dengan menyentuh lembut hambanya ataupun dengan menggosok kasar hatinya. Semua taka ada bedanya, hanya saja… kita perlu kekuatan lebih untuk tetap tenang dalam kedua hal berbeda itu.

Dalam kondisi resah itu… menyerahlah… sampai titik ujung ikhtiarmu..
Jika untukmu, pasti untukmu ^^

Senin, 30 Juni 2014

Belajar Pada Dewasa Sebelum Masanya


Mungkin kita sering melupakan, ada anak-anak diluar sana, yang idealnya menikmati masa bermain.
Justru harus memikul tanggungjawab, ia dewasa sebelum waktunya.
Menjadi tumpuan keluarga sebelum sebelum masanya .

Aku tertampar, dan amat halus. Melihat sebuah tayangan salah satu chanel televisi. Farhan namanya, 12 tahun usianya, tinggal dengan ke 2 adiknya, dan neneknya yang kiranya sudah mulai tak sehat jiwanya, tanpa ayah dan ibu serta saudara. Yang harus bekerja menghidupi ketiga orang tersebut, dengan memulung dan kuli sebisanya. Sekali lagi, farhan namanya, nama yang amat indah.


Semua begitu menguras air mata serta pilu. Mungkin kita atau ia pernah berujar “ kenapa hal ini harus menimpa”?, Ya, hanya Allah saja yang Maha Tahu, Yang juga Berhak memberikan surge padanya. Semua terjadi bukan tanpa alasan, justru dengan alasan yang sangat jelas, sudah Allah perhitungkan, hanya saja kita tak mengetahuinya.

Seharusnya ini menjadi sebuah kunci, untuk membuka mata hati kita, untuk membuka kesadaran kita, dan untuk membuka kembali fitrah kita. Kita yang seharusnya malu akan kemandirian diri yang masih berantakan saat ini. Kita yang seharusnya tak mau kalah, akan perjuangan dan semangat yang terus ia pelihara. Ya, kita seharusnya mengingat usia kita ini sudah amat menuntut kedewasaannya.

Mungkin kita bisa menangis… Alhamdulilah… semoga itu tanda iman kita masih terpatri. Tapi tengoklah apakah tangisan itu seketika akan menghilang, seiring waktu yang menyudahi tontonan hebat itu. Apakah seketika kita akan melupa jika tadi kita sempat terketuk nuraninya. Dan kita kembali pada diri kita yang selama ini begini adanya.

Ya, apapun itu. Itu adalah keputusan, bagaimana kita memberi respon pada lingkungan kita. Bagaimana kita menjaga apa yang harus kita jaga. Dan bagaimana kita menjadi diri terbaik, bukan sekedar menjadi diri sendiri.

BERKISAH MIMPI


Mungkin kau lupa. Kita pernah berkisah
Tentang hujan, panas, juga rindu. Ya, kau lupa
Seperti aku yang juga lupa
Siapa temanku berkisah kala itu

Karena itu hanya sebuah titik. Tanpa koma.
Dalam tidur. Amat cepat

Aku terus menepis.
Meski jujur nurani. Berbisik menyusuri
Ya, itulah wanita katanya

Aku berbosan dengan lelah. Aku geram dengan bayangan
Aku ingin melupa. Karena memang ku tak mengenal

Aku terus mengendus , berpejam hati. Bukan lagi mata
Biar aku tenang. Bebas dari rasa. Yang tak jelas tujuan

Allahku. Genggamku dalam tenang
Hinggaku kembali percaya
Ada Engkau yang mengatur segala cerita
Kau Yang Kuasa

Jumat, 16 Mei 2014

Melihat lebih dekat, mendengar lebih ikhlas, memahami lebih sabar.



Banyak hal yang ada disekeliling kita yang hanya kita lihat selewat saja, dan akhirnya kita tak mengerti bahwa itu sangat berharga. 

Banyak hal di sekeliling kita yang hanya kita dengar berlalu saja, sekedar memperlihatkan rasa iba tanpa ikhlas mendengarnya, dan akhirnya kita tak mengerti bahwa itu sangatlah bermakna.

Banyak permasalahan yang ada di sekeliling kita, dan kitapun hanya melewatinya saja dengan percuma, tanpa belajar lebih sabar memahaminya, dan akhirnya kita banyak kehilangan hikmah. 

Kitalah yang membatasi diri kita.
Andai mata, telinga, hati dan seluruh diri kita kita biarkan melebur dengan segala kebaikan, betapa beruntungnya diri kita. 

Salah satu ciri seseorang  yang sehat mental adalah senang hidup dan menolong orang lain. Hakikat dasar manusia salah satunya adalah makhluk social, dan inilah ajang untu mensosialisasikan diri.  Bagaimana tidak, saat kita menolong orang lain, maka kitapun sedang berlaku baik pada diri kita mengumpulkan kepingan-kepingan kebaikan sebagai tabungan di akhirat kelak

Dalam sebuah hadist :
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Orang­ yang paling dicintai oleh Allah ‘Azza wa jalla adalah yang paling banyak memberi manfaat kepada orang lain. Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah kesenangan yang diberikan kepada sesama muslim, menghilangkan kesusahannya, membayarkan hutangnya, atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh, aku berjalan bersama salah seorang saudaraku untuk menunaikan keperluannya lebih aku sukai daripada beri’tikaf di masjid ini (Masjid Nabawi) sebulan lamanya. Barangsiapa berjalan bersama salah seorang saudaranya dalam rangka memenuhi kebutuhannya sampai selesai, maka Allah akan meneguhkan tapak kakinya pada hari ketika semua tapak kaki tergelincir. Sesungguhnya akhlak yang buruk akan merusak amal sebagaimana cuka yang merusak madu.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abid-Dunya dengan sanad hasan)